CERPEN

Cerpen

Tangisan Pilu

 

Malam yang begitu sunyi tak ada suara yang terdengar lagi. Pintu-pintu rumah warga semuanya telah tertutup rapat, sedangkan rembulan yang semula bersinar terang telah ditutupi awan. Tiba-tiba datang suara yang memecah suasana, suara itu begitu keras seperti lemparan benda-benda yang diselingi suara orang yang menangis. Warga yang telah tertidur pulas pun terbangun, mereka berhamburan keluar dari rumah ingin mengetahui asal suara itu. Ternyata suara itu berasal dari rumah pak Syaf dan bu Nurmi. Warga yang telah mengetahui hal itu pun kembali kerumah masing-masing. Mereka tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain.

Tak lama kemudian keluarlah pak Syaf dari rumahnya sambil membawa bungkusan yang berisi pakaian. Sementara itu bu Nurmi menangis terisak-isak di dalam rumah. Anak-anak mereka lilis dan fitri mengintip dari balik dinding pertengkaran orang tuanya, hancur luluh perasaan mereka saat itu. Kemudian lilis mengejar papanya.

“papa… jangan pergi pa… pa…” ujar lilis sambil menangis tersedu-sedu.

Papanya hanya melihat kebelakang dengan pandangan penuh penyesalan.

Sebulan berlalu, lilis yang semulanya anak yang cerdas dan ceria kini berubah drastis. Ia mendadak suka menyendiri dan nilainya menurun.

“lilis, coba kesini dulu. Ada yang mau bapak tanyakan” ujar pak Guru kepada lilis.

Lilis yang saat itu sedang termenung pun terkejut, ia takut dan enggan untuk berbicara dengan orang lain.

“ ya, pak ada apa pak” jawab lilis menundukkan kepalanya kebawah. Sedangkan tangannya bergerak tak karuan seakan ada badai yang akan menimpanya.

“akhir-akhir ini Bapak lihat lilis suka menyendiri dan nilai lilis banyak yang anjlok. Kenapa lis?” tegas bapak memandang lilis.

“tidak ada apa-apa pak, mungkin karena kurang belajar saja pak” jawab lilis dengan nada terbata-bata.

“Insya Allah pak” jawab lilis menangisi nasibnya.

Pak guru pun pergi meninggalkannya, ia begitu merasa terpukul atas kejadian beberapa bulan lalu. Ia ingin kedua orang tuanya bisa seperti dulu lagi. Hanya itu yang dipikirkannya saat itu.

Dilain tempat, fitri adik lilis yang saat itu belum genap berusi 6 tahun pun jatuh sakit. Bu Nurmi sangat kebingungan mengurusi keluarganya yang serba kacau. Sedangkan suaminya yang telah meninggalkannya tak kunjung kembali. Dari mana ia akan mendapatkan uang untuk berobat aanaknya. Sebulan ini saja ia belanja dan anak-anaknya dari belas kasihan tetangga. Sebidang tanah dan sebuah rumah peninngalan suaminya tak mungkin dijualnya. Hanya itu harta yang dimilikinya saat itu.

“ma…ma…ma….uhuk…uhuk…” fitri tebatuk menahan sakit didadanya.

“ya nak, mama ambilkan air dulu ya?” ujar bu Nurmi begitu cemas.

Bu Nurmi berlari menuju dapur untuk mengambilkan air putih, sedangkan tahu yang digorengnya untuk sarapan pun berbau hangus. Tak karuan perasaan Bu Nurmi. Ia mulai merasa putus asa dengan kehidupannya yang mendadak berubah. Tak ada angin, tak ada badai tiba-tiba saja bahtera  rumah tangga yang telah diarunginya bertahun-tahun mendadak karam ditengah lautan.

###

Pagi itu begitu dingin. Bu Nurmi dan kedua anaknya tertidur pulas. Tiba-tiba fitri terbangun dan batuk-batuk. Badannya yang dulu berisi kini mulai kurus menahan rindu dan penyakit yang dideritanya.  Sedangkan lilis kakaknya masih tertidur pulas, batuk fitri yang tak kunjung berhenti membangunkan mama dan kakaknya. Bu Nurmi pun bergegas ke dapur mengambilkan segelas air  putih untuk fitri.

“ma…ma…., batuk fitri berdarah ma!!!!!” teriak lilis.

Bu Nurmi saat itu masih didapur berlari ke kamar membawa segelas air putih. Bu Nurmi tersentak lesu saat mendengar perkataan lilis. Pagi yang dingin itu menjadi saksi ibu dan anak yang meratapi nasibnya itu.

Sekitar jam 08.00. bu Nurmi mencoba menghubungi pak Syaf. Namun tak pernah diangkatnya telepon itu. Bu Nurmi terus mencoba dan tetap mencoba menghubungi pak Syaf. Hasilnya tetap sama semuanya nihil. Akhirnya diputuskan oleh Bu Nurmi membawa fitri ke rumah sakit sendiri. Dengan iba hati lilis melepaskan mama dan adiknya kerumah sakit.

Sesampainya dirumah sakit, Bu Nurmi lansung menemui dokter anak untuk mengetahui penyakit yang diderita fitri. Terlebih dahulu fitri melakukan rontgen. Fitri menangis teredu-sedu karena ia takut di rontgen. Bu Nurmi terus mencoba membujuk fitri. Akhirnya, fitri pun menuruti permintaan mamanya. Sedangkan dokter hanya tersenyum melihat tingkah fitri.

Seminggu berlalu, Bu Nurmi kembali kerumah sakit untuk melihat hasil rontgen fitri. Alangkah terkejutnya Bu Nurmi melihat hasil itu, paru-paru anaknya rusak sebelah.

“dokter, ini apa maksudnya dokter? Apa penyakit yang diderita anak saya dokter?”  ujar bu Nurmi begitu was-was menunggu jawaban dokter.

“ begini bu, anak ibu ini kondisinya sudah parah. Rasanya aka sangat sulit untuk dapat bertahan” jawab dokter dengan hati-hati.

“apa tidak bisa dilakukan pengobatan dokter?” ujar Bu Nurmi lagi.

“Rasanya akan sangat sulit bu, sebab anak ibu kondisinya sangat lemah dan masih kecil, tapi jika Allah berkehendak semua tak bisa di prediksi bu ” jawab Bu Nurmi lagi.

Bu Nurmi terkulai lemah saat mendengar jawaban itu, ia tak dapat menahan air matanya yang mulai menetes membasahi pipinya. Fitri memendang mamanya dengan penuh tanda tanya. Ia tak mengeri apa yang terjadi.

 

 

####

Sebulan lamanya fitri dirawat di rumah sakit. Badannya pun semakin kurus saja, semakin hari semangatnya semakin berkurang. Pandangannya menerawang ingat akan papa yang telah meninggalkannya. Ia tak sanggup lagi  menahan penyakit yang dideritanya. Bu Nurmi pun semakin kebingungan dimana ia akan mendapatkan uang untuk perawatan fitri. Sedangkan pak Syaf sendiri tak kunjung datang. Akhirnya fitri pun dibawa pulang dari rumah sakit. Sebab keadaannya tak kunjung membaik.

Sesampainya di rumah, warga berdatangan mengunjungi rumah         Bu Nurmi. Mereka ingin tahu bagaimana keadaan fitri selama dirawat. Alangkah terkejutnya mereka saat fitri keluar rumah digendong oleh bu Nurmi. Badanya begitu kurus, lemas, tak bersemangat dan dari mulutnya hanya keluar kata papa,papa dan papa.  Warga yang menyaksikan itu tak sanggup menahan air mata. Hingga pertemuan kali itu menjadi begitu mengharukan sekali.

Berbulan-bulan Fitri hanya duduk saja di rumah. Berjalanpun ia sudah tak mampu. makanan yang diberikan mamanya tak ada yang enak oleh lidahnya. Bu Nurmi dan lilis tak kuasa melihat keadaan fitri yang semakin hari semakin buru saja. Kaki fitri semakin membesar karena dia hanya duduk seharian saja diatas kursi sedangkan badannya hanya tinggal kulit pembalut tulang. Sungguh tak sepadan lagi tubuh yang dimilikinya. Benar-benar tak kuasa orang melihat keadaan yang demikian itu.

####

 

Angin  sepoi-sepoi yang bertiup pagi itu begitu menyejukkan. Kicauan burung-burung yang gembira dengan alunan nan syahdu membangunkan para pemilik rumah. Lain halnya dengan  Bu Nurmi Entah apa yang ada dipikirannya hari itu ia meninggalkan fitri dengan lilis dirumah sendiri. Lilis sendiri belum mengerti bagaimana merawat adiknya, hingga ia meninggalkan fitri seorang di ruang tamu yang masih gelap itu. Tiba-tiba saja fitri merintih dan penyakitnya kambuh, badan yang kurus itu tak sanngup lagi menahan bencana yang datang silih berganti. Ia menahan sakit tanpa ada orang disampingnya.

“ ma….ma….ma,saaakiiit ma…. ma..” ujar fitri dengan suara yang parau. Namun tak ada yang mendengar jeritan pilu itu.

“Paaapaaaa…paaapaaa….papa……..” fitri menangis menahan rindu akan papanya yang tak kunjung datang menjemputnya.

Ia kejang-kejang disertai rintihan yang menyayat pilu, sungguh menyedihkan keadaannya. Hanya ditemani cicak-cicak di loteng rumah yang tak kuasa melihat tontonan itu.

###

Suasana yang sepi kemudian dikalahkan oleh ketukan pintu dari bu Nurmi. Ia memanggil Lilis, namun tak ada yang menyahuti panggilannya. Lansung saja ia buka pintu itu. tiba-tiba pandangannya tertuju pada fitri yang tergeletak di ruang tamu sambil kejang-kejang, paniklah Bu Nurmi. Dipeluklah tubuh yang lemah itu, air mata Bu Nurmi bercucuran membasahi bajunya yang penuh keringat.

“ fitri bertahan ya nak, fitri mau apa??? Mama sekarang ada uang…” ujar bu Nurmi yang menyodorkan uang kepada fitri.

“paaapaaa,,paapaa” fitri memejamkan matanya menyebut nama itu. pandangannya menerawang entah kemana.

“ jangan sebut lagi papamu nak, dia sudah melupakan kita…. nak” bu Nurmi memeluk erat fitri.

“paaapaaa, fitriiii kaaangeen paapaaa. Paappaa kaapaan puulangg?” ujar fitri yang berbicara dengan bibir yang begitu pucat.

“ ya Allah, cobaan apa lagi yang akan kau berikan pada hamba… hamba tak kuat lagi ya Allah” …….

“Papaaaaaaaa,papaaaaa,papaaaaaa”

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.Terkulailah tubuh yang lemah itu. badan sudah berpisah dengan ruhnya. Menangislah alam menyaksikannya. Sungguh malang Bu Nurmi sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dua orang yang disayanginya pergi. Sungguh tak adil dunia padanya, ingin mengupat ia kepada tuhan. Untung saja bisikan kebenaran cepat datang memperbaiki jalan pikirannya.

Tak lama datanglah lilis membawa kue ulang tahun untuk adiknya dengan teman-teman fitri dari TK. Ia begitu bertanya-tanya apa yang terjadi dirumahnya. Mengapa Begitu ramai, yang dia fikirkan mungkin orang- orang yang mengucapkan selamat ulan tahun untuk fitri.Namun apa yang dilihatnya, tubuh adiknya telah terkulai lemah tak berdaya. Wajah pucat pasi yang terbaring di diatas kasur pembaringan terakhir adikya. Ditutuplah tubuh yang tak lagi bernyawa itu dengan sehelai kain . bagaikan disambar petir, tubuh lilis langsung tegang. Ia terjatuh dengan kue ulang tahun ditangannya. Putuslah harapannya, adiknya pergi pas ulng tahunnya yang ke-6 tahun.

###

Sore itu alam sedang berduka. Dengan diiringi rintik-rintik hujan tubuh fitri dibawa ke tempat perkuburan. Isak tangis warga  mengiringi fitri pemakaman itu. namun papanya tak juga datang mengunjungi acara pemakamannya. lilis yang semula selalu mengharapkan kedatangan papanya, jadi menyimpan dendam yang mendalam. Ia tak ingin lagi melihat papanya.

Sekitar jam 06.00, selesailah acara itu. namun lilis tak mau beranjak dari sana, ia ingin selalu menemani adiknya di tempat peristirahatan terakhir.

####

Kabar kematian itu telah sampai kepada pak syaf. Alangkah terkejut saat mendengar kabar itu. anak yang disayanginya telah dipanggil yang kuasa.

“ mak, ku dengar fitri anakku meninggal…. kenapa tidak diberitahu padaku mak?” ujar pak syaf kepada ibunya dengan muka yang memerah.

ibu pak syaf hanya diam seribu bahasa.

“tak cukupkah kalian telah memisahkan aku dengan istri dan anakku, sekarang anakku meninggal tak juga dikabarkan.

Pak syaf langsung keluar rumah. Prak…. buka pintu dengan penuh amarah. Ibunya pun membiarkannya pergi. Dinginya angin malam yang menusuk tulang tak dihiraukan pak syaf, dengan langkah pasti ia terus berjalan menuju rumah istrinya. Setelah hampir setahun ia meninggalkan anak-anaknya. Kini timbullah penyesalan di dalam hatinya. Tapi apa yang mau dikata Nasi telah menjadi bubur. Ia telah menalak tiga istrinya.

Jam 10.00 sampailah ia dikampung istrinya, ia tak tau dimana fitri dikuburkan. Jika bertanya malu pula rasanya. Akhirnya ia pergi kekebun yang dibelinya dahulu. Onggokan tanah merah telah menantinya disana. Penyesalan tinggal penyesalan, ingin rasanya waktu diputar kembali. Namun apalah daya, itu tak kan mungkin terjadi. Angin yang  berhembus malam itu menjadi  saksi bisu kedatangan pak syaf mengunjungi makam anaknya.

“ maafkan papa nak, maafkan papa” ujar pak syaf dengan air mata terurai.

“andaikan dulu papa tidak pergi tak kan seperti ini jadinya nak”ujar pak syaf lagi.

begini lah kehidupan, penyesalan terus terjadi belakangan saat keadaan telah memburuk.  Hembusan angin malam menemani pak syaf untuk tertidur lelap di pangkuan makam fitri

 

SEKIAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s