BUKAN RAMA DAN SINTA (3)

3. Diakhir penantian

 Sudah seminggu ini tak ada kabar dari wardah, telepon dan sms yang kukirim tak pernah mendapatkan respon balik. Alhasil, masalah ini begitu membuatku merasa bersalah. Ah, begitu sepinya hari-hari satu minggu ini tanpa ada canda dan tawa wardah.

“ma…“

“ya, kenapa? Papa tadi pagi nanya, kamu milih sma yang mana? “

“alind, gak milih yang ada di undangan itu ma.. “

“lalu??” mama begitu terkejut dengan keputusan yang kubuat.

“kalau alind masuk pesantren aja gmana ma..”

“mama belum bisa memutuskan, nanti tunggu papa pulang dulu ya “

“ya ma”

Pesantren?? Tempat yang tak prnah terpikirkan sebelumnya. Mungkin ini keputusan yang tepat untuk menyelamatkan persahabatan kami yang mulai retak gara-gara cinta. Gw memang menyayangi alfa tapi gw juga tak bisa kehilangan sahabat seperti wardah. Tapi apa gw bisa menjalani hidup dipesantren? Berjuta pertanyaan datang memenuhi kepalgw. Mungkin memang pesantren tempat terbaik untuk melupakan alfa.

Bicara mengenai pesantren pada papa rasanya agak berat. Tak pernah tak pernah sekalipun terlontar dari mulutnya papa mengenai pesantren. Gw mulai bingung menyusun kata-kata yang harus disampaikan pada papa. Tak lama terdengar pintu pagar seperti ada yang membuka, segera kulangkahkan kaki menuju pintu. Benar saja, itu papa.

“tumben sekali alind yang bukain, mama mana?”

“mama ada pa, didalam. Pa..” ah, gimana ngomongnya nih. Kebiasaanku kalau lagi gugup mulai muncul.

“kenapa?, oh ya tadi papa ketemu sama kepala sekolah kamu. Jadinya milih sma yang mana?”

“papa jangan marah ya? rencananya alind gak mau ngambil yang diundangan itu pa”

“nanti malam aja kita bahas ya, papa masih capek. Sekalian bawain tas papa kedalam”

“ya pa” jawabku sesingkat mungkin.

****

“papa dan mama menyetujui apa yang alind putuskan untuk tidak mengambil undangan itu, tapi tolong alind jelaskan sama papa dan mama apa sebabnya”

Dengan sedikit berbohong gw menjelaskan kalau gw ingin lebih memperdalam ilmu agama.

Tak Seperti yang kuduga. Papa mengizinkan gw untuk melanjutkan sekolah ke pesantren. Tapi papa yang akan memilihkan pesantrennya.

****

“wardah, maafin gw.. ini tak seperti yang loe lihat.. gw dan alfa benar2 gak ada hubungan apa-apa.. jika loe udah gak marah lagi balas sms ini dan temui gw di sekolah pas ambi ijazah, tapi kalau loe masih marah gak usah balas sms ini.. gw sayang loe n gw harap kita bisa bersahabat selamanya”

Mungkin sudah 2 jam gw nunggu wardah ditempat kami biasanya nongkrong. Kulirik lagi jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Wardah tidak biasanya seperti ini, mungkin saja dia masih marah. Matahari mulai bersembunyi dibalik awan pertanda akan mengeluarkan kristal-kristal ajaibnya yang ditunggu tanah yang mulai kekeringan. Benar saja, butiran-butiran hujan mulai turun.

Alhamdulillah, akhirnya hujan turun juga membasahi bumi. Gw lupa, bagaimana dengan ijazah? Gw lupa membawa plastik pelindung tas. Di alam ini memang banya hal yang tidak terduga, Musim kemarau panjang tiba-tiba saja disela hujan yang begitu lebat. Begitu juga persahabatanku dengan wardah yang tiba-tiba saja ditimpa badai.

“gak pulang lind, ntar hujannya tambah lebat loh?” gw tidak sempat memperhatikan pemilik suara itu. suara yang tidak asing lagi rasanya, otakku mulai mencerna dan bayangan alfa mulai terlukis sebagai jawaban pertanyaan itu. ah, kenapa alfa lagi? Bagaimana jika wardah datang? Masalah akan bertambah rumit lagi.

“iya, lagi nungguin wardah nih. Kamu sendiri kok belum pulang? “ harusnya gw tidak bertanya balik. Tunggu, gw bilang kamu? Kata formal macam apa yang telah kulontarkan. Benar saja, alfa tertawa kecil mendengar yang kukatakan tadi. Kebiasaanku sedang gugup mulai muncul, alfa mungkin saja sudah tak asing lagi dengan kebiasaanku ini.

Heboh. Mungkin inilah kata yang cocok untuk melukiskan suasana kelas tanpa guru. Kertas yang berbentuk pesawat beterbangan, ada yang kejar-kejaran, dan ada juga yang bermain SOS. SOS adalah permainan yang mudah untuk dilgwkan, yang diperlukan hanya pena dan kertas dan siapa yang bisa membentuk kata SOS terbanyak yang akan menang. Berbeda dengan mereka, gw sendiri sibuk mengisi TTS.

Suasana heboh ini tiba-tiba dihentikan dengan hentakan kaki yang menuju ke ruang kelas 6. Tanpa intruksi mereka semua diam.

“assalamualaikum anak-anak”

“waalaikumsalam pak” mereka menjawab dengan serempak.

“hari ini kelas kita kedatangan siswa pindahan, bapak harap kalian dapat berteman dengan baik. Alfa, silahkan masuk nak..”

Sosok yang disebut alfa oleh pak guru pun masuk kelas. Mengenakan seragam yang berbeda dari kami semua, kemeja yang bercorak batik, celana panjang yang berwarna merah dan tak lupa ikat pinggang yang mengikat celananya. Mungkin saja dia anak pindahan dari kota. Rapi, mungkin itu kesan pertama saat kemunculan alfa.

Alfa memang bisa mencari perhatian, dengan kecerdasan dan guyonan-guyonan lucunya tak sampai satu bulan nama alfa sudah terkenal seantero sekolah. Sejak saat itulah gw mulai mengagumi sosok alfa.

“hey lind!! kok malah bengong?” alfa membangunkan gw dari lamunan yang terputar seperti vidio di ingatan.

“lo bilang tadi nungguin wardah kan?”

“aah.. iya, ada lo lihat dia?” please berhenti gugupnya alind. Kenapa susah sekali mengontrolnya.

“tadi sih gw sempat liat dia dikelas sebelum gw ketiduran, mungkin udah pulang”

“ooh.. begitu” jawabku sesingkat mungkin.

“lo nungguin hujan reda? Bisa sampai malam kayaknya” alfa kembali bertanya seraya merapikan rambutnya yang berantakan.

“kayaknya iya, gw lupa bawa plastik buat ijazah fa. Takutnya ntar basah. Lo sendiri gak pulang? Udah jam 4..”

“nunggu hujan reda juga deh”

“eeh??” sedikit terkejut dengan seuntai kalimat yang dilontarkan alfa.

Ditengah penantian redanya si penyejuk bumi Kami hanya diam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s