BUKAN RAMA DAN SINTA (5)

5. Cerita baru

Disini benar-benar berbeda dan  aku menemukan hal yang paling sulit untuk kulakukan yaitu sosialisasi dan semua peraturan yang begitu menyiksa. Semuanya sulit untuk dilakukan, rasanya aku tak bisa bertahan lebih lama dan aku mulai menyerah.

“Maaf ummi, bolehkah ana menggunakan telepon?”

antum mau menelpon siapa?”

“orang tua ana ummi”

“silahkan, tapi jangan lama-lama ya. Teman antum yang lain juga sudah banyak yang ngantri”

“baik ummi”

Aku tak bisa lagi menahan air mata yang sudah terbendung selama satu semester disini.

“assalamualaikum ma” ujarku sambil terisak

“kenapa nak, alind baik-baik saja kan?”

“ma, alind nggak kuat disini mah. Alind mau pindah aja mah”

“loh, kan alind yang mau sekolah disitu. Yaudah, nanti mama rundingkan dulu sama papa ya nak”

“maafin alind ya mah”

“oh ya nak, nilai semester satunya bagaimana?”

“tidak terlalu buruk ma, tapi alind keluar dari peringkat selama ini. Alind rangking 10 ma”

Diluar dugaan, papa mengizinkan aku pindah dari pesantren. Papa bilang aku akan dipindahkan ke sekolah di tempat tanteku bulan depan. Ini berarti aku harus menguatkan diri untuk tetap tinggal disini beberapa minggu lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s